Selasa, 29 Januari 2019

The Beginning of Everything

3 tahun sebelumnya.

Allyssa


Aku terbangun dengan nafas terengah-engah. Lagi. Entah sudah berapa kali dalam sebulan terakhir aku mengalami mimpi buruk. Ku lihat jam menunjukan pukul 05.43 pagi. Keringat sudah membasahi tubuhku. Ah, mimpi itu lagi. Ku rasa sebentar lagi aku akan gila, pkirku.

Knock, knock, knock..
Sebelum aku beranjak untuk membuka pintu, Josh -adik laki-laki yang hanya berjarak dua tahun denganku-  langsung menyambar masuk dengan membawa tas olah raganya.
"Oh hey, ternyata kau sudah bangun sepagi ini. Aku mencari kaos kaki yang tertinggal di sini. Kata Ibu, dia meletakkannya di lemarimu.", Ucap Josh santai yang lalu berjalan cepat menuju lemari pakaianku.
Aku masih duduk di ranjang dengan pikiran yang masih kacau. Kepalaku masih terasa berat.
"Kau baik-baik saja, Ally? Kau seperti mayat hidup.", Kata Josh. Ia kini menatapku dengan heran.
"Ya aku baik-baik saja. Cepat keluar dari sini.", Ucapku.
Josh mengernyitkan dahi heran menatapku beberapa saat, kemudian ia pergi. Setelah ia menutup pintu, aku bangun dari ranjang dan aku menyadari sesuatu. Ah, hari Minggu. Pantas saja Josh bergegas untuk pergi basket pagi-pagi seperti ini. 

Aku terhenyak saat melihat wajahku sendiri di cermin. Terlihat bagian bawah mataku menghitam dan kulitku pucat pasi. Aku sadar bahwa hanya sekitar tiga jam saja aku tidur.  

Minggu, 27 Januari 2019

PROLOGUE

Seabrook, 01:15 AM

Kota itu begitu sunyi. Dingin. Musim dingin akan segera datang. Terdengar sayup - sayup daun yang jatuh terseret angin dan sesekali terdengar lolongan anjing. Seorang gadis berambut panjang terlihat berjalan cepat sambil mengusap -usap kedua telapak tangannya. Wajahnya pucat dan matanya lebam. Lampu kota semakin redup digantikan oleh kabut yang menebal. Hujan yang mengguyur kota itu tampaknya semakin menambah kesunyian. Gadis itu nampak kedinginan hingga tubuhnya gemetar. Ia tetap berjalan meski langkahnya semakin melambat. Ia berhenti di sebuah toko.
"It's too late..", gumamnya.
Matanya menerawang kaca etalase toko yang tertutup embun. Tatapannya kosong. Ia menghela nafas, sementara hujan kembali turun. Rintik hujan yang jatuh ke tanah, diiringi dengan suara detik jam dinding di dalam toko yang masih bisa terdengar. Sunyi. Lolongan anjing sudah tidak terdengar lagi. Sepasang mata mengawasi gerak-gerik gadis itu.
"Baiklah, dari sini saja. Aku mengawasimu, Ally.." Nampak seorang lelaki tengah memperhatikan gadis yang berada di seberang jalan. Sesudah menggumamkan kalimat itu, ia menghisap rokok terakhirnya.
 Tangannya menggegam kemudi mobil erat-erat sementara matanya tetap terpaku pada gadis yang sedang berdiri di ujung jalan itu. Entah apa sedang ia pikirkan, namun hanya seulas senyum pahit yang nampak di wajahnya.




The Beginning of Everything

3 tahun sebelumnya. Allyssa Aku terbangun dengan nafas terengah-engah. Lagi. Entah sudah berapa kali dalam sebulan terakhir aku mengal...