Allyssa
Aku terbangun dengan nafas terengah-engah. Lagi. Entah sudah berapa kali dalam sebulan terakhir aku mengalami mimpi buruk. Ku lihat jam menunjukan pukul 05.43 pagi. Keringat sudah membasahi tubuhku. Ah, mimpi itu lagi. Ku rasa sebentar lagi aku akan gila, pkirku.
Knock, knock, knock..
Sebelum aku beranjak untuk membuka pintu, Josh -adik laki-laki yang hanya berjarak dua tahun denganku- langsung menyambar masuk dengan membawa tas olah raganya.
"Oh hey, ternyata kau sudah bangun sepagi ini. Aku mencari kaos kaki yang tertinggal di sini. Kata Ibu, dia meletakkannya di lemarimu.", Ucap Josh santai yang lalu berjalan cepat menuju lemari pakaianku.
Aku masih duduk di ranjang dengan pikiran yang masih kacau. Kepalaku masih terasa berat.
"Kau baik-baik saja, Ally? Kau seperti mayat hidup.", Kata Josh. Ia kini menatapku dengan heran.
"Ya aku baik-baik saja. Cepat keluar dari sini.", Ucapku.
Josh mengernyitkan dahi heran menatapku beberapa saat, kemudian ia pergi. Setelah ia menutup pintu, aku bangun dari ranjang dan aku menyadari sesuatu. Ah, hari Minggu. Pantas saja Josh bergegas untuk pergi basket pagi-pagi seperti ini.
Aku terhenyak saat melihat wajahku sendiri di cermin. Terlihat bagian bawah mataku menghitam dan kulitku pucat pasi. Aku sadar bahwa hanya sekitar tiga jam saja aku tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar